“Ayah Nyebelin!!!” Kata-kata yang sering dilontarkan oleh anak saya tercinta. Saya terkadang suka merasa sebal dengan ungkapan yang meluncur dari mulutnya, dan kadang suka merasa bahwa apa yang diungkapkannya salah. Pertengkaran antara orang tua dan anak sering kali terjadi dalam sebuah keluarga, mengapa ini terjadi? Istri saya tercinta selalu memberikan saran yang baik bagi saya, salah satunya adalah “Kita yang sudah besar harusnya lebih mengerti dong!” ini tampaknya suatu pelajaran baru bagi saya.
Memahami perasaan seseorang dan menempatkan diri pada konteks yang tepat sungguh merupakan suatu hal yang berat bagi saya. bagaimana berekspresi yang tepat, memilih kata-kata yang tepat, dan mengakhiri pembicaraan dengan baik sungguh suatu hal yang berat. Terkadang saat saya menyampaikan nasihat pada Anak saya, ternyata tampak seperti memberi perintah, padahal sungguh tidak ada niat begitu. yang lebih parah lagi adalah, saya terlihat begitu serius padahal saat ini konteksnya saya mencoba bercanda.
menurut Agung (2006), beberapa aspek yang harus dipahami saat melakukan pembicaraan adalah sebagai berikut :
- Situasi. Situasi yang dimaksudkan adalah hal-hal yang menyangkut keadaan atau kondisi saat pembicaraan/ceramah sedang berlangsung.
- Ruang. Hal ini adalah tentang tempat dimana kita sedang berbicara
- Waktu. Yang dimaksudkan dengan waktu disini adalah, disamping waktu yang sebenarnya yaitu apakah pagi, siang, sore atau malam, juga tentang isi materi yang akan dibicarakan, apakah hal tersebut masih aktual ataukah sudah usang atau basi.
- Tema. Sebuah tema sangat penting artinya dalam suatu pembicaraan, sehingga didalam pembicaraan seorang pembicara ia dapat fokus atau terarah.
- Isi atau Materi. Isi pembicaraan hendaknya sesuai dengan tema yang telah dipersiapkan dengan mantap sebelumnya dan menarik minat pendengar.
- Teknik Penyajian. Teknik yang dimaksudkan disini adalah cara-cara yang digunakan didalam berbicara, meliputi
1) Kemampuan menggunakan bahasa lisan dengan baik, Ekspresi (air muka) yang menarik, (2)Stressing (redance), (3)Kemampuan memberikan refreshing (penyegaran) dengan menyelipkan intermezzo, yaitu dengan menyelingi pembicaraan dengan hal-hal lain yang berhubungan yang mengandung kelucuan, baik itu pengalaman sendiri atau sebuah anekdot, dengan tidak mengurangi nilai pembicaraan.(4) Kepribadian atau personality. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah disamping daya pesona atau kharismatik seseorang, juga meliputi nilai-nilai pribadi seorang pembicara, diantaranya: jujur, cerdik, berani, bijaksana, berpandangan baik, percaya diri, tegas, tahu diri, tenang dan tenggang rasa.
Ternyata faktor ke enam yang sangat berat ya, saya harus mulai melatih diri tersenyum (by default kadang wajahnya cemberut, walau hati ini selalu gembira), menyesuaikan dengan suasana, dan tentunya harus menambah wawasan dan tahu siapa lawan bicaranya. Memang berteori itu lebih menyenangkan, karena saat praktiknya, sungguh-sungguh berat
.
Pustaka:
Arman Agung, Keterampilan berbicara rhetorika dan berbicara efektif,[unpublished],2006


